Showing posts with label Rupiah Melemah. Show all posts
Showing posts with label Rupiah Melemah. Show all posts
Rupiah melemah ke kisaran 15.000, perlukah masyarakat panik?

Rupiah melemah ke kisaran 15.000, perlukah masyarakat panik?

2:47:00 am Add Comment
Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Masyarakat diminta tetap tenang, meski kenaikan harga barang konsumsi diprediksi dapat melonjak.
Menurut catatan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang tertera pada situs Bank Indonesia, hingga Rabu (05/09), US$1 kini setara Rp14.927.
Sejumlah bank bahkan telah menjual dolar AS seharga Rp15.000. Angka itu mencerminkan pelemahan rupiah yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.
Sejauh ini pelemahan rupiah belum mendorong kenaikan harga kebutuhan secara signifikan, seperti disampaikan Asja, pedagang daging di Pasar Rumput, Jakarta.
Tapi ia mengkhawatirkan daya beli masyarakat.
"Tidak naik saja sepi, apa lagi harga naik. Dulu sehari saya bisa jual 50 hingga 60 kilogram. Sekarang 20 kilo saja tidak habis," ujar Asja.
Akan tetapi, seperti dilaporkan sejumlah media lokal, pedagang tahu dan tempe di beberapa kota, mulai merasakan dampak pelemahan rupiah.
Di Pasar Ciawi, Bogor, Jawa Barat, sebagaimana dilansir Tribunnews, pasokan tahu-tempe mulai melambat.
Sementara itu, Republika melaporkan, pedagang tahu dan tempe di Banyumas, Jawa Tengah, khawatir merugi karena harga kedelai kerap melonjak jika rupiah melemah terhadap dolar AS.
Kedelai adalah salah satu bahan pangan yang masif diimpor pengusaha Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2017, setiap bulan impor kedelai mencapai 242 ton, mayoritas dari AS.
JokowiHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPresiden Jokowi menyebut depresiasi rupiah disebabkan faktor eksternal, bukan kondisi perekonomian nasional.
Menurut ekonom dari Universitas Atmajaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, harga barang konsumsi yang bergantung pada produk impor seperti tahu-tempe berpotensi melonjak jika rupiah terus melemah.
Namun, Prasetyantoko memprediksi dampak jangka dekat depresiasi rupiah hanya akan dirasakan pelaku pasar keuangan dan pengusaha besar, bukan masyarakat kelas menengah ke bawah.
"Besar penurunan rupiah dari awal tahun 2018 masih di bawah 10%, jadi ini tidak serta merta membuat barang naik. Kalau pun naik, akan bertahap," tuturnya saat dihubungi via telepon.
Bagaimanapun, pemerintah menjamin depresiasi rupiah ini tidak akan berujung pada krisis ekonomi seperti yang terjadi tahun 1997.
Alasannya, inflasi kini berada di angka 3,2%, sementara tahun 1997 inflasi mencapai 78,2%.
Selain itu, pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi 2018 berada di angka 5,27%, berbeda dengan tahun 1997 yang justru minus 13,34%.
Presiden Joko Widodo berkata, depresiasi rupiah didorong faktor eksternal, seperti kenaikan suku bunga AS, perang dagang antara AS-Cina, hingga krisis ekonomi yang melanda Turki serta Argentina.
"Saya selalu melakukan koordinasi berkaitan sektor moneter, sektor industri, pelaku usaha. Koordinasi yang kuat ini menjadi kunci," kata Jokowi soal kiatnya menjaga perekonomian.
Bank IndonesiaHak atas fotoANTARA/SIGID KURNIAWAN
Image captionDirektur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut nilai tukar rupiah tidak akan terperosok.
Adapun Direktur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut lembaganya terus mengawasi nilai tukar rupiah.
Ia memprediksi, tidak akan terjadi goncangan ekonomi akibat depresiasi rupiah.
"Kita sudah pernah lewati level Rp9.000, Rp10.000, hingga Rp13.000. Kalaupun terjadi depresiasi, tidak akan mendadak, tidak melonjak, tapi gradual sehingga tidak muncul kepanikan masyarakat."
"Upaya yang kami lakukan, hasilnya mungkin memerlukan waktu beberapa bulan, tapi harus kami lalukan sekarang," ujar Perry di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
RupiahHak atas fotoDETIKCOM/MUHAMMAD RIDHO
Image captionMasyarakat didorong tak membeli dolar AS dan mengurangi belanja produk buatan luar negeri agar nilai tukar rupiah stabil.
Pertanyaannya, apa sumbangsih yang perlu dilakukan masyarakat demi menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS?
Agustinus Prasetyantoko berkata, kondisi psikologis publik perlu dijaga agar tak khawatir rupiah bakal jatuh.
Caranya, kata dia, publik dapat berinisiatif mengurangi penggunaan produk luar negeri.
Menurut Prasetyantoko, masyarakat juga perlu menghindari membeli dolar, meski segala upaya swadaya ini tidak akan langsung memperkuat rupiah.
"Dampaknya tidak akan signifikan. Ini untuk menjaga efek psikologi. Kalau dilakukan secara konsisten, tentu akan berdampak, terutama jika sem

Rupiah makin anjlok, pemerintah diminta jujur soal kondisi ekonomi saat ini

3:53:00 pm Add Comment


JAKARTADPR RI bersama Kementerian Keuangan menggelar rapat paripurna hari ini. Agenda rapat kali ini adalah penyampaian tanggapan pemerintah terhadap pandangan umum fraksi atas RUU APBN 2019 dan nota keuangan.


Rapat yang dimulai sejak pukul 11.01 WIB tersebut langsung diawali oleh interupsi beberapa anggota fraksi yang menanyakan perihal kondisi Rupiah yang saat ini tengah terdepresiasi.
Anggota fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo mengkritisi pemerintah yang selalu mengatakan bahwa kondisi ekonomi baik-baik saja meski Rupiah hampir mendekati level 15.000. Padahal, menurutnya, kondisi tersebut sudah mengkhawatirkan terlebih saat ini impor pangan cukup tinggi. Seperti komoditas kedelai, jagung, gula hingga beras.
"Hampir seluruh komoditas kita impor dan ini menurut saya terlalu memprihatikan dan selalu Pak Presiden menyampaikan kurs Dolar terjadi menguat di beberapa negara. Memang benar, tapi kondisi di Indonesia yang terparah," kata Bambang di Gedung DPR RI, Selasa (4/9).
Untuk itu, dia meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan hal tersebut kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Di kehidupan masyarakat ini sangat memberatkan dan tolong Menkeu (Sri Mulyani) sampaikan kepada Presiden (Jokowi) agar impor dikurangin bukan malah ditambah," ujarnya.
Senada, Michael Wattimena anggota fraksi partai Demokrat menyampaikan pemikirannya mengenai kondisi Rupiah saat ini. Dia menjelaskan, Indonesia punya sejarah pahit mengenai krisis moneter yaitu yang terjadi 20 tahun silam tepatnya tahun 1998.
"Indonesia ini adalah negara yang besar, kita punya pengalaman yang pahit pada tahun 1998 di mana Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi," ujarnya.
Dia menegaskan, hal tersebut jangan sampai terulang kembali. Oleh sebab itu dia meminta pemerintah segera melakukan tindakan-tindakan untuk mengatasinya. Sebab saat ini Rupiah sudah mulai merangkak ke level 15.000.
"Kami sangat mencintai Indonesia dan memiliki pengalaman pahit di mana Indonesia mengalami krisis ekonomi," ujarnya.
Dia meminta pemerintah jujur dan terbuka mengenai kondisi ekonomi saat ini, di mana kondisi ekonomi global yang bergejolak selalu dituding menjadi penyebab Rupiah terdepresiasi.
Padahal, lanjutnya, dalam nota keuangan yang disampaikan Presiden pada tanggal 16 Agustus 2018 terkait RAPBN 2019 Rupiah diasumsikan 14.400.
"Nilai tukar yang diasumsikan meningkat. Jadi kondisi ini, tolong Menkeu jelaskan secara jujur keadaan ekonomi saat ini. Sebab kita tidak ingin dalam situasi 1998 yang mengalami krisis ekonomi. Nota keuangan saja yang disampaikan oleh Presiden Rupiah berada pada mendekati 14.800 padahal hari ini sudah ingin mencapai 14.900, untuk itu saat ibu menjelaskan kami mohon ibu menjelaskan secara jujur. Saya pikir janganlah kita kaitkan masalah-masalah ini dengan negara lain yang tidak ada kaitannya."
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak fluktuatif di perdagangan hari ini, Selasa (4/9). Pagi ini, Rupiah dibuka di Rp 14.823 per USD, melemah tipis dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 14.815 per USD.
Mengutip data Bloomberg, Rupiah terus melemah usai pembukaan, hingga menyentuh Rp 14.845 per USD. Namun kemudian bergerak menguat dan saat ini berada di level Rp 14.780 per USD. [azz]